BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya
kemampuan akal dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam
hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai
kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah,
seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu
usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya, tentu
telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba
menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Darmojo, 2004).
Proses
menua (aging) merupakan suatu perubahan progresif pada organisme yang telah
mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan
adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai dengan
adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial akan saling
berinteraksi satu sama lain. Proses menua yang terjadi pada lansia secara
linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu, kelemahan (impairment),
keterbatasan fungsional (functional limitations), ketidakmampuan (disability),
dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses
kemunduran (Bondan, 2009).
Hal yang
pertama perawat lakukan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lansia adalah
pengkajian. Menurut Potter & Perry, (2005), pengkajian keperawatan adalah
proses sistematis dari pengumpulan, verifikasi dan komunikasi data tentang
klien. Proses keperawatan ini mencakup dua langkah yaitu pengumpulan data dari
sumber primer (klien) dan sumber sekunder (keluarga, tenaga kesehatan), dan
analisis data sebagai dasar untuk diagnose keperawatan.
B.
Rumusan Masalah
Secara garis besar, masalah yang kami rumuskan adalah sebagai berikut.
1.
Bagaimana gambaran asuhan
keperawatan klasikal pada lansia?
2.
Bagaimana contoh kasus asuhan
keperawatan pada lansia ?
C.
Tujuan
1.
Tujuan umum
Tujuan
umum dari penulisan makalah ini adalah untuk :
a. Mengetahui bagaimana gambaran asuhan
keperawatan klasikal pada lansia.
b. Mengetahui bagaimana contoh kasus
asuhan keperawatan pada lansia.
2.
Tujuan Khusus
Tujuan
khusus dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok pada
mata kuliah Keperawatan Komunitas 2
BAB II
PEMBAHASAN
Di Indonesia menurut sensus pada tahun
1980, jumlah penduduk adalah 147,3 juta orang. Pada angka tersebut terdapat
16,3 orang (11%) yan gberumur 50 tahun ke atas, dan ±6,3 juta orang (4,3%)
orang yang berumur 60 tahun ke atas. Dari 6,3 juta orang terdapat 822.831
(12,06%) orang tergolong jompo, yaitu para lanjut usia yang memerlukan bantuan
khusus sesuai Undang-undang, bahwa mereka harus dipelihara oleh Negara.
Pada tahun 2000 diperkirakan meningkat
menjadi 9,99% dari seluruh penduduk (22.2277.700 jiwa) dengan umur harapan
hidup 65-70 tahun. Secara individu proses menjadi tua menimbulkan berbagai
masalah baik secara fisik, biologis, mental dan sosialnya.
Dengan makin bertambahnya penduduk usia lanjut, bertambah
pula penderita golongan ini yang memerlukan pelayanan kesehatan. Berbeda dengan
segmen populasi lain, populasi lanjut usia dimanapun selalu menunjukkan
morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi dibanding populasi lain. Disamping
itu, oleh karena aspek disabilitas yang tinggi pada segmen populasi ini selalu
membutuhkan derajat keperawatan yang tinggi.
Keperawatan pada usia lanjut merupakan bagian dari tugas dan
profesi keperawatan yang memerlukan berbagai keahlian dan keterampilan yang
spesifik, sehingga di bidang keperawatan pun saat ini ilmu keperawatan lanjut
usia berkembang menjadi suatu spesialisasi yang mulai berkembang. Keperawatan
lanjut usia dalam bahasa Inggris sering dibedakan atas Gerontologic nursing
(=gerontic nursing) dan geriatric nursing sesuai keterlibatannya dalam bidang
yang berlainan. Gerontologic nurse atau perawat gerontologi adalah perawat yang
bertugas memberikan asuhan keperawatan pada semua penderita berusia diatas 65
tahun (di Indonesia dan Asia dipakai batasan usia 60 tahun) tanpa melihat apapun
penyebabnya dan dimanapun dia bertugas. Secara definisi, hal ini berbeda dengan
perawat geriatrik, yaitu mereka yang berusia diatas 65 tahun dan menderita
lebih dari satu macam penyakit (multipel patologi), disertai dengan berbagai
masalah psikologik maupun sosial.
Adapun asuhan keperawatan klasikal pada lansia merupakan
gambaran mengenai beberapa permasalahan atau hambatan yang sering dialami
lansia dalam dikarenakan adanya perubahan atau penurunan kondisi dari lansia
itu sendiri. Berikut beberapa kasus penyakit atau masalah yang menghambat
lansia :
A. Masalah fisik sehari-hari yang
sering ditemukan pada lansia
:
1. Mudah
jatuh
a.
Jatuh
merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat
kejadian, yang mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai
atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka
(Ruben, 1996).
b.
Jatuh
dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor intrinsik: gangguan gaya
berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah, kekuatan sendi dan
sinkope-dizziness; faktor ekstrinsik: lantai yang licin dan tidak rata,
tersandung oleh benda-benda, penglihatan kurang karena cahaya yang kurang
terang dan sebagainya.
2.
Mudah lelah, disebabkan oleh :
a.
Faktor
psikologis: perasaan bosan, keletihan, depresi
b.
Gangguan
organis: anemia, kurang vitamin(osteoporosis), osteomalasia, dll
c.
Pengaruh
obat: sedasi, hipnotik
3.
Gangguan kardiovaskuler : nyeri dada,sesak nafas
pada kerja fisik,palpitasi,edema kaki.
4. Nyeri
atau ketidaknyamanan : nyeri pinggang atau punggung, nyeri pinggul(dikarenakan
proses radang sendi/arthritis,tulang yang keropos /osteoporosis),keluhan
pusing,kesemutan pada anggota badan.
5. Berat badan
menurun.
6. Gangguan
eliminasi : inkontinensia/ngompol dan inkontinensia alvi.
7. Gangguan
ketajaman penglihatan: presbiopi,kelainan lensa mata,katarak,glaucoma,radang
saraf mata.
8. Gangguan
pendengaran : presbikusis sensorik,presbikusis neural,presbikusis
metabolic,persbikusis mekanik,
9. Gangguan
tidur
10. Mudah
gatal
11. Kekacauan
mental
B. Penyakit
umum pada lanjut usia
Ada empat yang sangat erat kaitannnya dengan
proses menua :
1. Gangguan
sirkulasi darah : misalnya hipertensi,kelainan pembulih drah,gangguan pembuluh
darah diotak,ginjal dan lain-lain.
2. Gangguan
metabolisme hormonal, misalnya diabetes mellitus,ketidakseimbangan tiroid.
3. Gangguan
pada persendian dan tulang,misalnya osteoarthritis,gout arthritis,osteoporosis.
4. Berbagai
macam neoplasma.
Adapun
menurut The National Old People’s welfarecouncil di inggris,penyakit atau
gangguan umum pada lanjut usia ada 12 macam :
1. Depresi
mental
2. Gangguan
pendengaran
3. Bronchitis
kronis
4. Gangguan
pada tungkai/sikap berjalan
5. Gangguan
pada koksa/sendi panggul
6. Anemia
7. Dimensia
8. Gangguan
penglihatan
9. Ansietas/kecemasan
10. Dekompensasi
kordis
11. Diabetes
mellitus
12. Gangguan
defekasi
Sedangkan di Indonesia rata-rata penyakit lansia
meliputi:
1. Penyakit
system pernapasan
2. Penyakit
kardiovaskuler dan pembuluh darah.
3. Penyakit
pencernaan makanan
4. Penyakit
system urogenital
5. Penyakit
gangguan metabolic/endokrin
6. Penyakit
pada persendian dan tulang.
7. Penyakit
yang disebabkan oleh proses keganasan.
Berdasarkan
beberapa jenis penyakit yang umum terdapat atau dialami pada lansia diatas
maka, berikut adalah contoh kasus dari salah satu pentakit atau permasalahan
yang sering dialmi oleh lansia.
C. Kasus Asuhan Keperawatan Klasikal
pada Lansia
1. Konsep Medis
a.
Defenisi
osteoporosis adalah penyakit yang ditandai
dengan berkurangnya massa tulang dan adanya perubahan mikroarsitektur jaringan
tulang. Osteoporosis bukan hanya berkurangnya kepadatan tulang tetapi juga
penurunan kekuatan tulang. Pada osteoporosis kerusakan tulang lebih cepat
daripada perbaikan yang dilakukan oleh tubuh. Osteoporosis sering disebut juga
dengan keropos tulang. Tulang-tulang yang sering mengalami fraktur/patah yaitu
: tulang ruas tulang belakang, tulang pinggul, tungkai dan pergelangan lengan
bawah. (WHO)
Osteoporosis merupakan penyakit metabolisme
tulang yang ditandai pengurangan massa tulang, kemunduran mikroarsitektur
tulang dan fragilitastulang yang meningkat, sehingga resiko fraktur menjadi
lebih besar. Insidenosteoporosis meningkat sejalan dengan meningkatnya populasi
usia lanjut (Adam,2002; Kaniawati, 2003; Hammett, 2004; Sennang, 2006).
b. klasifikasi
a) Osteoporosis primer
Osteoporosis primer sering
menyerang wanita paska menopause dan juga pada pria usia lanjut dengan penyebab
yang belum diketahui.
Osteoporosis postmenopause
merupakan osteoporosis tipe I pada wanita usia 51-65 tahun. Secara patogenesis
terjadi ketidakseimbangan prosesremodeling tulang antara resorpsi yang
meningkat dengan cepat dan formasitulang berjalan relatif lebih lambat.
(Lindsay, 2001; Djokomoeljanto 2003; Raisz,2005; Adnan, 2008)
b)
Osteoporosis sekunder
osteoporosis sekunder disebabkan oleh
penyakit yang berhubungan dengan :
-
Hyperthyroidism
-
Hyperparathyroidism
-
Kelainan hepar
-
Kegagalan
ginjal kronis
-
Kurang gerak
-
Kebiasaan
minum alcohol
-
Pemakai
obat-obatan/corticosteroid
-
Kelebihan
kafein
-
Merokok
c) Osteoporosis anak
Osteoporosis pada anak disebut juvenile
idiopathic osteoporosis.
c. Etiologi
a)
Osteoporosis
postmenopausal
terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita),
yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada
wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun,
tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita
memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal,
wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada
wanita kulit hitam.
b)
Osteoporosis
senilis terjadi
karena kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia
dan ketidakseimbangan di antara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan
tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia
lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia di atas 70 tahun dan 2 kali
lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis
senilis dan postmenopausal.
Kurang dari 5% penderita
osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder, yang disebabkan oleh keadaan
medis lainnya atau oleh obat-obatan.Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal
ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal)
dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon
tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa
memperburuk keadaan ini.
c) Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang
penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda
yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal
dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.
d.
Faktor
resiko
a)
Wanita. Resiko osteoporosis pada wanita
lebih tinggi daripada pria karena, umumnya massa tulangnya lebih kecil dan
proses menopause pada Wanita.
b)
Usia.
Resiko osteoporosis meningkat 1-2 kali setiap bertambah usia 10 tahun
c)
Kebiasaan
merokok dan konsumsi minuman beralkohol
d)
Genetik.
Riwayat osteoporosis atau patah tulang di usia lebih dari;50 tahun pada
keluarga juga merupakan faktor resiko osteoporosis.
e)
Penyakit
kronis seperti diabetes, penyakit hati, ginjal,dapat meningkatkan resiko
osteoporosis.
f)
Asupan
kalsium dan vitamin D yang kurang adalah faktor resiko penting dalam
osteoporosis
g)
Penggunaan
obat-obatan seperti steroid, obat anti kejang (Phenobarbital dan; Phenytoin),
antasida yang mengandung aluminium, metotreksat, siklosporin A merupakan faktor
resiko osteoporosis karena menyebabkan pengeluaran kalsium dari tulang dalam
jumlah banyak.
e. Menifestasi
klinis
Gejala-gejala
osteoporosis menurut para tim medis lain,yaitu:
a) Nyeri tulang akut.. Nyeri terutama
terasa pada tulang belakang, nyeri dapat dengan atau tanpa fraktur yang nyata
dan nyeri timbul mendadak.
b) Nyeri berkurang pada saat
beristirahat di tempat tidur
c) Nyeri ringan pada saat bangun tidur
dan akan bertambah bila melakukan aktivitas\
d) Deformitas tulang. Dapat terjadi
fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular yang
menyebabkan medulla spinalis tertekan sehingga dapat terjadi paraparesis.
e) Gambaran klinis sebelum patah
tulang, klien (terutama wanita tua) biasanya datang dengan nyeri tulang
belakang, bungkuk dan sudah menopause sedangkan gambaran klinis setelah terjadi
patah tulang, klien biasanya datang dengan keluhan punggung terasa sangat nyeri
(nyeri punggung akut), sakit pada pangkal paha, atau bengkak pada pergelangan
tangan setelah jatuh.
f) Kecenderungan penurunan tinggi badan
g) Postur tubuh kelihatan
memendek
f. Patofisioligi
Osteoporosis terjadi karena adanya
interaksi yang menahun antara factor genetic dan factor lingkungan. Factor
genetic meliputi:
- usia jenis kelamin.
Factor lingkungan meliputi:
- merokok, Alcohol, Kopi, Defisiensi vitamin dan gizi, Gaya hidup, Mobilitas, anoreksia nervosa dan pemakaian obat-obatan.
Kedua factor diatas akan menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulang, peningkatan pengeluaran kalsium bersama urin, tidak tercapainya masa tulang yang maksimal dengan resobsi tulang menjadi lebih cepat yang selanjutnya menimbulkan penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan tulang baru sehingga terjadi penurunan massa tulang total yang disebut osteoporosis.
- usia jenis kelamin.
Factor lingkungan meliputi:
- merokok, Alcohol, Kopi, Defisiensi vitamin dan gizi, Gaya hidup, Mobilitas, anoreksia nervosa dan pemakaian obat-obatan.
Kedua factor diatas akan menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulang, peningkatan pengeluaran kalsium bersama urin, tidak tercapainya masa tulang yang maksimal dengan resobsi tulang menjadi lebih cepat yang selanjutnya menimbulkan penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan tulang baru sehingga terjadi penurunan massa tulang total yang disebut osteoporosis.
Di samping
penuaan dan menopause, penipisan tulang diakibatkan oleh pemberian steroid
sehingga mengakibatkan penurunan pembentukan tulang (bone formation) dan
peningkatan resorpsi tulang (bone resorption). Steroid menghambat
sintesis kolagen tulang oleh osteoblast yang telah ada, dan mencegah
transformasi sel-sel prekursor menjadi osteoblast yang dapat berfungsi dengan
baik. Di samping itu, steroid juga sangat mereduksi sintesis protein. Gambaran
histomorfometrik menunjukkan penurunan tingkat aposisi mineral, dan penipisan
dinding tulang, yang diduga karena umur osteoblast yang semakin pendek. Efek
steroid terhadap osteoblast juga melalui gangguan atas respons osteoblast
terhadap hormon paratiroid, prostaglandin, sitokin, faktor pertumbuhan, dan
1,25-dihydrozy vitamin D. Sintesis dan aktivitas faktor-faktor parakrin lokal
mungkin juga terganggu. Dibandingkan proses penuaan, penipisan tulang dalam
osteoporosis akibat steroid lebih luas, karena permukaan-permukaan yang
mengalami resorpsi dan hambatan formasi tulang juga lebih luas.
Berbeda
dengan efek steroid atas pembentukan tulang, penelitian mengenai gangguan
resorpsi tulang masih terbatas. Diduga, pengaruh steroid terhadap resorpsi
tulang berlangsung melalui hormon paratiroid. Penelitian pada hewan percobaan
menunjukkan bahwa setelah pengangkatan kelenjar paratiroid, respons
osteoklastik terhadap steroid sepenuhnya hilang, sehingga disimpulkan bahwa
resorpsi tulang terutama dikendalikan oleh hormon paratiroid. Namun, kebanyakan
penelitian pada manusia tidak menemukan peningkatan kadar hormon paratiroid
setelah pemberian terapi steroid. Penelitian lain menemukan peningkatan
fragmen-fragmen hormon paratiroid, tetapi kadar hormon yang utuh tidak
terpengaruh.
Efek
steroid terhadap absorpsi kalsium dalam usus tidak sama di setiap segmen-segmen
usus tidak sama. Absorpsi di duodenum lebih kecil, tetapi absorpsi di kolon
meningkat. Di samping penurunan absorpsi kalsium, steroid dapat meningkatkan
ekskresi kalsium dalam urine. Pada pasien dengan pemberian steroid jangka
panjang, hiperkalsiuria kemungkinan besar akibat mobilisasi kalsium di
tulang-tulang dan penurunan reabsorpsi kalsium di tubuli renal. Steroid mungkin
mengganggu metabolisme vitamin D, walaupun dugaan ini belum didasari bukti
kuat. Kadar 1,25 dihydroxyvitamin D dalam serum menurun akibat pemberian
steroid, tetapi perubahan dari 25-hydroxyvitamin D menjadi 1,25
dihydroxyvitamin D tidak mengalami perubahan.
Steroid
eksogen akan menghambat sekresi gonadotropin dari hipofisis, sehingga fungsi
gonad terganggu. Akibatnya, produksi estrogen dan testosteron menurun. Steroid
menghambat sekresi LH, dan menurunkan produksi estrogen yang difasilitasi oleh
FSH. Efek steroid yang lain adalah menurunkan sekresi hormon seks adrenal.
Defisiensi estrogen dan pemakaian steroid saling memperkuat efek terhadap laju
penipisan tulang. Ketika bone thinning terjadi, bagian trabekular lebih
dulu terpengaruh dibandingkan bagian kortikal. Dengan demikian fraktur lebih
sering terjadi di tulang-tulang pipih.
Hiperkalsiuria
dan bone thinning terjaadi dalam 6 bulan sampai 12 bulan seterlah pemakaian
steroid eksogen. Setelah itu, laju penipisan tulang melambat hingga 2 sampai 3
kali dibandingkan keadaan normal. Risiko osteoporosis akibat steroid juga
meningkat ketika dosis yang diberikan lebih tinggi. Belum jelas, apakah risiko
timbul akibat pemberian dosis steroid yang lebih tinggi (prednison > 7,5
mg/d) dalam jangka waktu pendek (< 6 bulan), atau dosis yang rendah
(prednison < 7,5 mg/d) tetapi dalam waktu lebih lama (> 6 bulan).
Yang jelas, risiko osteoporosis meningkat dengan dosis kumulatif steroid lebih
tinggi. Secara umum, dosis yang rendah lebih aman dibandingkan dosis tinggi,
namun tidak jelas berapa dosis yang benar-benar aman. Laju penipisan tulang
bisa meningkat hanya dengan pemberian 5-10 mg prednison setiap hari dan juga
dengan steroid melalui inhalasi. Pemberian steroid dalam dosis berapapun perlu
disertai dengan penilaian risiko osteoporosis dan pemantauan secara
terus-menerus untuk mencegah fraktur.
Secara
skematis, patofisiologi osteoporosis akibat pemberian steroid dapat digambarkan
sebagai 2 proses utama. Proses yang pertama adalah penurunan pembentukan tulang
dan kenaikan resorpsi tulang. Terapi steroid secara kronik menurunkan umur
osteoblast dan meningkatkan apoptosis. Pemberian steroid juga meningkatkan
maturasi dan kegiatan osteoclast dan mengakibatkan antiapoptotik secara
langsung. Dengan menurunkan absorpsi kalsium dari usus dan meningkatkan
ekskresi kalsium urine, steroid mengakibatkan resoprsi tulang dan
hiperparatiroidisme sekunder. Steroid menghambat produksi hormon steroid
seksual dan sekresi dari adrenal, ovarium dan testis yang juga mengakibatkan
resorpsi tulang.
g. Komplikasi
Osteoporosis
mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh dan mudah patah.
Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur kompresi
vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan daerah
trokhanter, dan fraktur colles pada pergelangan tangan.
h. Penatalaksaan
a) Diet kaya kalsium dan vitamin D yang
mencukupi sepanjang hidup, dengan peningkatan asupan kalsium pada permulaan
umur pertengahan dapat melindungi terhadap demineralisasi tulang
b) Pada menopause dapat diberikan
terapi pengganti hormone dengan estrogen dan progesterone untuk memperlambat
kehilangan tulang dan mencegah terjadinya patah tulang yang diakibatkan.
c) Medical treatment, oabt-obatan dapat
diresepkan untuk menangani osteoporosis termasuk kalsitonin, natrium fluoride,
dan natrium etridonat
d) Pemasangan penyangga tulang belakang
(spinal brace) untuk mengurangi nyeri punggung
i . Pemeriksaan
penunjang
a)
Pemeriksaan
laboratorium (misalnya : kalsium serum, fosfat serum, fosfatase alkali, eksresi
kalsium urine,eksresi hidroksi prolin urine, LED).Pemeriksaan ini untuk menilai
kecepatan bone turnover.
Penilaian
bone turnover rate dilakukan dengan membandingkan aktivitas formasi tulang
dengan aktivitas resorpsi tulang. Apabila aktivitas pembentukan/formasi tulang
lebih kecil dibandingkan dengan aktivitas resorpsi tulang maka pasien ini
memiliki risiko tinggi terhadap osteoporosis. Evaluasi biokimia ini
dilakukan melalui pemeriksaan darah dan urine pagi hari.
i.
Petanda untuk menilai aktivitas pembentukan tulang
(bone formation)
-
Osteocalcin
yaitu protein yang dihasilkan oleh osteoblas dyang berfungsi membantu proses
mineralisasi tulang.
-
Alkali
fosfatase tulang yaitu enzim yang dihasilkan osteoblas yang berfungsi sebagai
katalisator proses mineralisasi tulang.
ii. Petanda
untuk menilai aktivitas resorpsi tulang (bone resorption)
-
Deoxypyridinolin/
β-Crosslink yaitu protein penguat mekanik tulang yang dilepaskan ke dalam
peredaran darah dan dikeluarkan melalui urin jika terjadi proses resorpsi/
penyerapan tulang.
-
CTx
(C-Telopeptide) yaitu hasil pemecahan protein kolagen tipe 1 yang spesifik
untuk tulang. Selain itu, pemeriksaan kadar CTx dan deoxypyridinolin dapat
digunakan untuk menilai/pemantauan keberhasilan terapi (sebelum pemeriksaan
densitas mineral tulang berikutnya).
2. Radiologi
Pemeriksaan
radiologi vertebra torakalis dan lumbalis AP dan lateral dilakukan untuk
mencari adanya fraktur. Nilai diagnostik pemeriksaan radiologi biasa untuk
mendeteksi osteoporosis secara dini kurang memuaskan karena pemeriksaan ini
baru dapat mendeteksi osteoporosis setelah terjadi penurunan densitas massa
tulang lebih dari 30%.
3. Pemeriksaan
bone densitometri (DEXA)
Pemeriksaan
densitometri tulang dilakukan menggunakan alat DEXA. Biasanya digunakan untuk
mengukur densitas massa tulang pada daerah lumbal, femur proksimal, lengan
bawah distal dan seluruh tubuh. Secara rutin, untuk diagnosis
osteoporosis cukup diperiksa densitometri pada vertebra lumbal dan pangkal paha
(femur proksimal). Bila terdapat keterbatasan biaya, dapat dipertimbangkan
pemeriksaan hanya pada 1 daerah, yaitu pada daerah lumbal untuk wanita yang
berumur kurang dari 60 tahun, atau daerah pangkal paha (femur proksimal) pada
wanita yang berumur lebih dari 60 tahun dan pada pria.
j.
Prognosis
Walaupun penderita osteoporosis mempunyai kadar
mortalitas yang meninggi karena adanyakomplikasi fraktur, jarang fatal. Fraktur
tulang pinggul bisa menyebabkan penurunanmobilitas dan tambahan dari resiko
dari komplikasi multipel (thrombosis vena dan/atauemboli pulmonal, pneumonia).
Kadar mortalitas-6 bulan setelah fraktur tulang pinggul adalahsebanyak 13,5%
dan proporsi yang hampir sama pada penderita yang mengalami fraktur tulang
pinggul yang memerlukan bantuan untuk mobilisasi. Fraktur tulang
vertebramempunyai impak yang kecil pada mortalitas tetapi bisa menyebabkan
nyeri yang kronik karena kelainan neurogenik, yang susah untuk dikontrol dan
bisa menyebabkan deformitas.
2. Asuhan
Keperawatan Teoritis
a. Pengkajian
a) Anamnesis
• Riwayat kesehatan. Anamnesis memegang peranan
penting pada evaluasi klien osteoporosis. Kadang keluhan utama (missal fraktur
kolum femoris pada osteoporosis). Factor lain yang perlu diperhatikan adalah
usia, jenis kelamin, ras, status haid, fraktur pada trauma minimal, imobilisasi
lama, penurunan tinggi badan pada orang tua, kurangnya paparan sinar matahari,
kurang asupan kalasium, fosfat dan vitamin D. obat-obatan yang diminum dalam
jangka panjang, alkohol dan merokok merupakan factor risiko osteoporosis.
Penyakit lain yang juga harus ditanyakan adalah ppenyakit ginjal, saluran
cerna, hati, endokrin dan insufisiensi pancreas. Riwayat haid , usia menarke
dan menopause, penggunaan obat kontrasepsi, serta riwayat keluarga yang
menderita osteoporosis juga perlu dipertanyakan.
• Pengkajian psikososial. Perlu mengkaji konsep diri
pasien terutama citra diri khususnya pada klien dengan kifosis berat. Klien
mungkin membatasi interaksi social karena perubahan yang tampak atau
keterbatasan fisik, misalnya tidak mampu duduk dikursi dan lain-lain. Perubahan
seksual dapat terjadi karena harga diri rendah atau tidak nyaman selama posisi
interkoitus. Osteoporosis menyebabkan fraktur berulang sehingga perawat perlu
mengkaji perasaan cemas dan takut pada pasien.
• Pola aktivitas sehari-hari. Pola aktivitas dan
latihan biasanya berhubungan dengan olahraga, pengisian waktu luang dan
rekreasi, berpakaian, mandi, makan dan toilet. Beberapa perubahan yang terjadi
sehubungan dengan dengan menurunnya gerak dan persendian adalah agility,
stamina menurun, koordinasi menurun, dan dexterity (kemampuan memanipulasi
ketrampilan motorik halus) menurun.
Adapun data subyektif dan obyektif yang bisa didapatkan dari klien dengan osteoporosis adalah :
Adapun data subyektif dan obyektif yang bisa didapatkan dari klien dengan osteoporosis adalah :
•
Data subyektif :
- Klien mengeluh nyeri tulang belakang
- Klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun
- Klien mengatakan membatasi pergaulannya karena perubahan yang tampak dan keterbatasan gerak
- Klien mengatakan stamina badannya terasa menurun
- Klien mengeluh bengkak pada pergelangan tangannya setelah jatuh
- Klien mengatakan kurang mengerti tentang proses penyakitnya
- Klien mengatakan buang air besar susah dan keras
- Klien mengeluh nyeri tulang belakang
- Klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun
- Klien mengatakan membatasi pergaulannya karena perubahan yang tampak dan keterbatasan gerak
- Klien mengatakan stamina badannya terasa menurun
- Klien mengeluh bengkak pada pergelangan tangannya setelah jatuh
- Klien mengatakan kurang mengerti tentang proses penyakitnya
- Klien mengatakan buang air besar susah dan keras
•
Data obyektif ;
- tulang belakang bungkuk
- terdapat penurunan tinggi badan
- klien tampak menggunakan penyangga tulang belakang (spinal brace)
- terdapat fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular
- klien tampak gelisah
- klien tampak meringis
- tulang belakang bungkuk
- terdapat penurunan tinggi badan
- klien tampak menggunakan penyangga tulang belakang (spinal brace)
- terdapat fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular
- klien tampak gelisah
- klien tampak meringis
b) Pemeriksaan
fisik
Pada pemeriksaan fisik menggunakan
metode 6 B(Breathing, blood, brain, bladder, bowel dan bone) untuk mengkaji
apakah di temukan ketidaksimetrisan rongga dada, apakah pasien pusing,
berkeringat dingin dan gelisah. Apakah juga ditemukan nyeri punggung yang disertai
pembatasan gerak dan apakah ada penurunan tinggi badan, perubahan gaya
berjalan, serta adakah deformitas tulang
•
B1 (breathing )
Inspeksi : ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang belakang
Palpasi : traktil fremitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : cuaca resonan pada seluruh lapang paru
Auskultasi : pada usia lanjut biasanya didapatkan suara ronki
Inspeksi : ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang belakang
Palpasi : traktil fremitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : cuaca resonan pada seluruh lapang paru
Auskultasi : pada usia lanjut biasanya didapatkan suara ronki
•
B2 (blood)
Pengisian kapiler kurang dari 1 detik sering terjadi keringat dingin dan pusing, adanya pulsus perifer memberi makna terjadi gangguan pembuluh darah atau edema yang berkaitan dengan efek obat
Pengisian kapiler kurang dari 1 detik sering terjadi keringat dingin dan pusing, adanya pulsus perifer memberi makna terjadi gangguan pembuluh darah atau edema yang berkaitan dengan efek obat
•
B3 (brain)
Kesadaran biasanya kompos mentis, pada kasus yang lebih parah klien dapat mengeluh pusing dan gelisah
Kesadaran biasanya kompos mentis, pada kasus yang lebih parah klien dapat mengeluh pusing dan gelisah
•
B4 (Bladder)
Produksi urine dalam batas normal dan tidak ada keluhan padasistem perkemihan
Produksi urine dalam batas normal dan tidak ada keluhan padasistem perkemihan
•
B5 (bowel)
Untuk kasus osteoporosis tidak ada gangguan eleminasi namun perlu dikaji juga frekuensi, konsistensi, warna serta bau feses
Untuk kasus osteoporosis tidak ada gangguan eleminasi namun perlu dikaji juga frekuensi, konsistensi, warna serta bau feses
•
B6 (Bone)
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis, klien osteoporosis sering menunjukkan kifosis atau gibbus (dowager’s hump) dan penurunan tinggi badan. Ada perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal. Lokasi fraktur yang terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis, klien osteoporosis sering menunjukkan kifosis atau gibbus (dowager’s hump) dan penurunan tinggi badan. Ada perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal. Lokasi fraktur yang terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3
Pemeriksaan diagnostic
- Radiology
- CT scan
- Pemeriksaan laboratorium
- Radiology
- CT scan
- Pemeriksaan laboratorium
b.Diagnosa keperawatan
Masalah yang biasa terjadi pada klien osteoporosis adalah sebagai berikut :
Masalah yang biasa terjadi pada klien osteoporosis adalah sebagai berikut :
1.
Nyeri akut yang berhubungan dengan
dampak sekunder dari fraktur vertebra ditandai dengan klien mengeluh nyeri
tulang belakang, mengeluh bengkak pada pergelangan tangan, terdapat fraktur
traumatic pada vertebra, klien tampak meringis
2.
Hambatan mobilitas fisik yang
berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal (kifosis) ,
nyeri sekunder, atau fraktur baru ditandai dengan klien mengeluh kemampuan
gerak cepat menurun, klien mengatakan badan terasa lemas, stamina menurun, dan
terdapat penurunan tinggi badan
3.
Risiko cedera yang berhubungan dengan
dampak sekunder perubahan skeletal dan ketidakseimbangan tubuh ditandai dengan
klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun, tulang belakang terlihat bungkuk
4.
Kurang perawatan diri yang berhubungan
dengan keletihan atau gangguan gerak ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada
tulang belakang, kemampuan gerak cepat menurun, klien mengatakan badan terasa
lemas dan stamina menurun serta terdapat fraktur traumatic pada vertebra dan
menyebabkan kifosis angular
5.
Gangguan citra diri yang berhubungan
dengan perubahan dan ketergantungan fisik serta psikologis yang disebabkan oleh
penyakit atau terapi ditandai dengan klien mengatakan membatasi pergaulan dan
tampak menggunakan penyangga tulang belakang (spinal brace)
6.
Gangguan eleminasi yang berhubungan
dengan kompresi saraf pencernaan ileus paralitik ditandai dengan klien
mengatakan buang air besar susah dan keras
7.
Kurang pengetahuan mengenai proses
osteoporosis dan program terapi yang berhubungan dengan kurang informasi, salah
persepsi ditandai dengan klien mengatakan kurang ,mengerti tentang penyakitnya,
klien tampak gelisah.
8.
Ansietas
b/d ancaman,atau perubahan status kesehatan
c. Intervensi keperawatan
1. Nyeri
akut yang berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra ditandai
dengan klien mengeluh nyeri tulang belakang, mengeluh bengkak pada pergelangan
tangan, terdapat fraktur traumatic pada vertebra, klien tampak meringis
Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang dengan criteria hasil klien dapat mengekspresikan perasaan nyerinya, klien dapat tenang dan istirahat, klien dapat mandiri dalam penanganan dan perawatannya secara sederhana.
Intervensi :
Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang dengan criteria hasil klien dapat mengekspresikan perasaan nyerinya, klien dapat tenang dan istirahat, klien dapat mandiri dalam penanganan dan perawatannya secara sederhana.
Intervensi :
• Evaluasi
keluhan nyeri/ketidaknyamanan, perhatikan lokasi dan karakteristik termasuk
intensitas (skala 1-10). Perhatikan petunjuk nyeri nonverbal (perubahan pada
tanda vital dan emosi/prilaku)
R/ Mempengaruhi
pilihan/pengawasan keefektifan intervensi
• Ajarkan klien
tentang alternative lain untuk mengatasi dan mengurangi rasa nyerinya
R/ alternative
lain untuk mengatasi nyeri misalnya kompres hangat, mengatur posisi untuk
mencegah kesalahan posisi pada tulang/jaringan yang cedera
• Dorong
menggunakan teknik manajemen stress contoh relaksasi progresif, latihan nafasa
dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan teraupetik
R/ Memfokuskan
kembali perhatian, meningkatkan rasa control dan dapat meningkatkan kemampuan
koping dalam manajemen nyeri yang mungkin menetap untuk periode lebih lama
• Kolaborasi
dalam pemberian obat sesuai indikasi
R/ diberikan
untuk menurunkan nyeri.
2. Hambatan
mobilitas fisik yang berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan
skeletal (kifosis) , nyeri sekunder, atau fraktur baru ditandai dengan klien
mengeluh kemampuan gerak cepat menurun, klien mengatakan badan terasa lemas,
stamina menurun, dan terdapat penurunan tinggi badan
Tujuan : setelah
dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien mampu melakukan mobilitas fisik
dengan criteria hasil klien dapat meningkatkan mobilitas fisik, berpartisipasi
dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan, klien mampu melakukan aktivitas hidup
sehari-hari secara mandiri
• Kaji tingkat
kemampuan klien yang masih ada
R/ sebagai dasar
untuk memberikan alternative dan latihan gerak yang sesuai dengan kemampuannya
• Rencanakan
tentang pemberian program latihan, ajarkan klien tentang aktivitas hidup sehari-hari
yang dapat dikerjakan
R/ latihan akan
meningkatkan pergerakan otot dan stimulasi sirkulasi darah
• Berikan
dorongan untuk melakukan aktivitas /perawatan diri secara bertahap jika dapat
ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan
R/ kemajuan
aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba, memberikan
bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan
aktivitas
3. Risiko
cedera yang berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan
ketidakseimbangan tubuh ditandai dengan klien mengeluh kemampuan gerak cepat
menurun, tulang belakang terlihat bungkuk
Tujuan : cedera
tidak terjadi dengan criteria hasil klien tidak jatuh dan tidak mengalami
fraktur, klien dapat menghindari aktivitas yang mengakibatkan fraktur
• Ciptakan
lingkungan yang bebas dari bahaya missal : tempatkan klien pada tempat tidur
rendah, berikan penerangan yang cukup, tempatkan klien pada ruangan yang mudah
untuk diobservasi
R/ menciptakan
lingkungan yang aman mengurangi risiko terjadinya kecelakaan
• Ajarkan pada
klien untuk berhenti secara perlahan,tidak naik tangga dan mengangkat beban
berat
R/ pergerakan
yang cepat akan memudahkan terjadinya fraktur kompresi vertebra pada klien
osteoporosis
• Observasi efek
samping obat-obatan yang digunakan
R/ obat-obatan
seperti diuretic, fenotiazin dapat menyebabkan pusing, mengantuk dan lemah yang
merupakan predisposisi klien untuk jatuh
4. Kurang
perawatan diri yang berhubungan dengan keletihan atau gangguan gerak ditandai
dengan klien mengeluh nyeri pada tulang belakang, kemampuan gerak cepat
menurun, klien mengatakan badan terasa lemas dan stamina menurun serta terdapat
fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular
Tujuan : setelah
diberikan tindakan keperawatan diharapkan perawatan diri klien terpenuhi dengan
criteria hasil klien mampu mengungkapkan perasaan nyaman dan puas tentang
kebersihan diri, mampu mendemonstrasikan kebersihan optimal dalam perawatan
yang diberikan
• Kaji kemampuan
untuk berpartisipasi dalam setiap aktifitas perawatan
R/ untuk
mengetahui sampai sejauh mana klien mampu melakukan perawatan diri secara
mandiri
• Beri
perlengkapan adaptif jika dibutuhkan misalnya kursi dibawah pancuran, tempat
pegangan pada dinding kamar mandi, alas kaki atau keset yang tidak licin, alat
pencukur, semprotan pancuran dengan tangkai pemegang
R/ peralatan
adaptif ini berfungsi untuk membantu klien sehingga dapat melakukan perawatan
diri secara mandiri dan optimal sesuai kemampuannya
• Rencanakan
individu untuk belajar dan mendemonstrasikan satu bagian aktivitas sebelum beralih
ke tingkatan lebih lanjut
R/ bagi klien
lansia, satu bagian aktivitas bisa sangat melelahkan sehingga perlu waktu yang
cukup untuk mendemonstrasikan satu bagian dari perawatan diri
5. Gangguan
citra diri yang berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik serta
psikologis yang disebabkan oleh penyakit atau terapi ditandai dengan klien
mengatakan membatasi pergaulan dan tampak menggunakan penyangga tulang belakang
(spinal brace)
Tujuan : setelah
diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat menunjukkan adaptasi dan
menyatakan penerimaan pada situasi diri dengan criteria hasil klien mengenali
dan menyatu dengan perubahan dalam konsep diri yang akurat tanpa harga diri
negative, mengungkapkan dan mendemonstrasikan peningkatan perasaan positif
• Dorong klien mengekspresikan perasaannya khususnya mengenai bagaimana klien merasakan, memikirkan dan memandang dirinya
• Dorong klien mengekspresikan perasaannya khususnya mengenai bagaimana klien merasakan, memikirkan dan memandang dirinya
R/ ekspresi
emosi membantu klien mulai meneerima kenyataan
• Hindari kritik
negative
R/ kritik
negative akan membuat klien merasa semakin rendah diri
• Kaji derajat dukungan yang ada untuk klien
• Kaji derajat dukungan yang ada untuk klien
R/ dukungan yang
cukup dari orang terdekat dan teman dapat membantu proses adaptasi
6. Gangguan
eleminasi alvi yang berhubungan dengan kompresi saraf pencernaan ileus
paralitik ditandai dengan klien mengatakan buang air besar susah dan keras
Tujuan : setelah
diberikan tindakan keperawatan diharapkan eleminasi klien tidak terganggu
dengan criteria hasil klien mampu menyebutkan teknik eleminasi feses, klien
dapat mengeluarkan feses lunak dan berbentuk setiap hari atau 3 hari
• Auskultasi bising usus
• Auskultasi bising usus
R/ hilangnya
bising usus menandakan adanya paralitik ileus
• Observasi
adanya distensi abdomen jika bising usus tidak ada atau berkurang
R/ Hilangnya
peristaltic(karena gangguan saraf) melumpuhkan usus, membuat distensi ileus dan
usus
• Catat
frekuensi, karakteristik dan jumlah feses
R/
mengidentifikasi derajat gangguan/disfungsi dan kemungkinan bantuan yang
diperlukan
• Lakukan latihan
defekasi secara teratur
R/ program ini
diperlukan untuk mengeluarkan feses secara rutin
• Anjurrkan
klien untuk mengkonsumsi makanan berserat dan pemasukan cairan yang lebih
banyak termasuk jus/sari buah
R/meningkatkan
konsistensi feses untuk dapat melewati usus dengan mudah
7. Kurang
pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi yang berhubungan
dengan kurang informasi, salah persepsi ditandai dengan klien mengatakan kurang
,mengerti tentang penyakitnya, klien tampak gelisah
Tujuan : setelsh diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien memahami tentang penyakit osteoporosis dan program terapi dengan criteria hasil klien mampu menjelaskan tentang penyakitnya, mampu menyebutkan program terapi yang diberikan, klien tampak tenang
Tujuan : setelsh diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien memahami tentang penyakit osteoporosis dan program terapi dengan criteria hasil klien mampu menjelaskan tentang penyakitnya, mampu menyebutkan program terapi yang diberikan, klien tampak tenang
• Kaji ulang
proses penyakit dan harapan yang akan dating
R/ memberikan
dasar pengetahuan dimana klien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi
• Ajarkan pada klien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis
R/ Informasi yang diberikan akan membuat klien lebih memahami tentang penyakitnya
• Berikan pendidikan kepada klien mengenai efek samping penggunaan obat
• Ajarkan pada klien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis
R/ Informasi yang diberikan akan membuat klien lebih memahami tentang penyakitnya
• Berikan pendidikan kepada klien mengenai efek samping penggunaan obat
R/ suplemen
kalsium ssering mengakibatkan nyeri lambung dan distensi abdomen maka klien
sebaiknya mengkonsumsi kalsium bersama makanan untuk mengurangi terjadinya efek
samping tersebut dan memperhatikan asupan cairan yang memadai untuk menurunkan
resiko pembentukan batu ginjal.
8.
Ansietas
b/d ancaman,atau perubahan status kesehatan
Tujuan : Mengurangi
atau tidak mengalami ansietas.
Intervensi :
·
Kaji
tingkat ansietas. Bantu pasien mengidentifikasi keterampilan koping yang telah
dilakukan dengan berhasil pada masa lalu.
Rasional : Memandukan intervensi terapeutik dan partisipatif dalam
perawatan diri, keterampilan koping pada masa lalu dapat mengurangi ansietas.
·
Beri
informasi mengenai penyakit pasien dan penanganannya.
Rasional :
Meningkatkan pengetahuan membantu mengurangi ansietas
·
Dorong
pasien mendiskusikan ansietas dan gali
keprihatinan mengenai penyakit pasien.
Rasional : Meningkatkan kesadaran dan pemahaman
hubungan antara tingkat antietas dan perilaku.
·
Ajarkan
pasien teknik penatalaksanaan stress atau lakukan rujukan bila perluh.
Rasional : Memperbaiki manajemen stress, mengurangi
frekwensi dan beratnya penyakit pasien.
·
Beri
upaya kenyamanan dan hindari aktivitas yang menyebebkan stress
Rasional :
situasi penuh stress dapat memperberat gejala kondisi ini..
·
Instruksikan
pasien dalam aspek program pengobatan
Rasional :
pengetahuan pasien membantu mengurangi ansietas.
d. Evaluasi
Hasil yang diharapkan meliputi :
• Nyeri berkurang
• Terpenuhinya kebutuhan mobilitas fisik
• Tidak terjadi cedera
• Terpenuhinya kebutuhan perawatan diri
• Status psikologis yang seimbang
• Menunjukkan pengosongan usus yang normal
• Terpeneuhinya kebutuhan pengetahuan dan informasi
Hasil yang diharapkan meliputi :
• Nyeri berkurang
• Terpenuhinya kebutuhan mobilitas fisik
• Tidak terjadi cedera
• Terpenuhinya kebutuhan perawatan diri
• Status psikologis yang seimbang
• Menunjukkan pengosongan usus yang normal
• Terpeneuhinya kebutuhan pengetahuan dan informasi
pathway
|
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Asuhan keperawatan klasikal pada
lansia merupakan gambaran mengenai beberapa permasalahan atau hambatan yang
sering dialami lansia dalam dikarenakan adanya perubahan atau penurunan kondisi
dari lansia itu sendiri.
Osteoporosis adalah penyakit yang ditandai
dengan berkurangnya massa tulang dan adanya perubahan mikroarsitektur jaringan
tulang. Osteoporosis bukan hanya berkurangnya kepadatan tulang tetapi juga
penurunan kekuatan tulang. Pada osteoporosis kerusakan tulang lebih cepat
daripada perbaikan yang dilakukan oleh tubuh. Osteoporosis sering disebut juga
dengan keropos tulang. Tulang-tulang yang sering mengalami fraktur/patah yaitu
: tulang ruas tulang belakang, tulang pinggul, tungkai dan pergelangan lengan
bawah. (WHO).
B.
Saran
Untuk dapat memahami pembahasan tentang ” ASUHAN
KEPERAWATAN KLASIKAL,PADA LANSIA” selain membaca dan memahami materi-materi
dari sumber keilmuan yang ada (buku, internet, dan lain-lain) kita harus dapat
mengkaitkan materi-materi tersebut dengan kehidupan kita
sehari-hari, agar lebih mudah untuk paham dan akan selalu diingat.
DAFTAR PUSTAKA
Adib, M.
2011.pengetahuan praktis ragam penyakit memetikan yang paling sering menyerang
kita, Jogjakarta: bukubiru.
Bandiyah,Siti.
2009. Lanjut Usia dan Keperawatan
Gerontik. Yogyakarta : Medical Book.
Doenges,
Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni
Made Sumarwati, Jakarta : EGC.
Gibson,
John, 2003, Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat, Jakarta : EGC.
Nugroho,
H.wahjudi. 2008. Keperawatan Gerontik
& Geriatrik Edisi 3.Jakarta :EGC.
Smeltzer,
Suzanne C, Brenda G bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono,
Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar